Senin, 28 November 2016

Pengertian talempong .



                                                                                                 
Talempong adalah sebuah alat musik pukul tradisional khas suku Minangkabau. Bentuknya hampir sama dengan instrumen bonang dalam perangkat gamelan. Talempong dapat terbuat dari kuningan, namun ada pula yang terbuat dari kayu dan batu. Saat ini talempong dari jenis kuningan lebih banyak digunakan.
Talempong berbentuk lingkaran dengan diameter 15 sampai 17,5 sentimeter, pada bagian bawahnya berlubang sedangkan pada bagian atasnya terdapat bundaran yang menonjol berdiameter lima sentimeter sebagai tempat untuk dipukul. Talempong memiliki nada yang berbeda-beda. Bunyinya dihasilkan dari sepasang kayu yang dipukulkan pada permukaannya.
Talempong biasanya digunakan untuk mengiringi tarian pertunjukan atau penyambutan, seperti Tari Piring yang khas, Tari Pasambahan, dan Tari Gelombang. Talempong juga digunakan untuk melantunkan musik menyambut tamu istimewa. Talempong ini memainkanya butuh kejelian dimulai dengan tangga nada do dan diakhiri dengan si.[butuh rujukan] Talempong biasanya dibawakan dengan iringan akordeon, instrumen musik sejenis organ yang didorong dan ditarik dengan kedua tangan pemainnya. Selain akordeon, instrumen seperti saluang, gandang, serunai dan instrumen tradisional Minang lainnya juga umum dimainkan bersama Talempong.
Di Negeri Sembilan, Malaysia, Talempong dikenali dengan nama Caklempong. Negeri Sembilan telah didatangi oleh suku Minangkabau yang bermigrasi dari Sumatera Barat pada abad ke 15 Masehi dan satu-satunya negara bagian di Malaysia yang mengamalkan sistem Lareh Bodi Caniago.



sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Talempong

Cara membuat Saluang.

Cara membuat "Saluang"
1.Anda harus mencari Talang
2.Disaat memotong Talang Bagian atas Talang adalah Bagian bawah Saluang,dan sebaliknya,Bagian      bawah Talang adalah Bagian atas Saluang
3.Ukur besar lingkaran Saluang,itu lah jarak dari bawah Saluang ke lubang nada yang terakhir
4.Jarak lubang nada Saluang yang terakhir,Ke lubang nada yang selanjutnya adalah stengah ukuran        besar Lingkaran Saluang(lubang nada Saluang ada 4 lubang nada)
5.Jarak dari lubang nada Saluang yang pertama ke bagian atas Saluang adalah 4 kali ukuran lingkaran    Saluang (Usahakan untuk melubangi Saluang dengan besar lubang nada Saluang 0,5 cm)
6.Runcing kan bagian atas Saluang sehingga membentuk sudut tumpul,itu biasa disebut dengan             "SUAI"

Cara Bermain "Saluang"
1.Anda harus meniup bagian atas Saluang dengan kepala sedikit miring
2.Usahakan anda tidak menggembungkan Pipi anda
3.Tiup lah dengan lembut dan lurus
4.Jika masih tidak berbunyi,buka lah ke4 lubang nada Saluang

Setelah anda bisa meniup Saluang,sekarang anda perlu mempelajari cara "Manyisiah Angok" (Circular Breathing)/Teknik nafas putar,sehingga para pemain Saluang tidak terputus2 Saat meniup Saluang/Tidak terputus2 saat memainkan Saluang dari awal lagu sampai akhir

Cara "Mayisiah Angok"
1.Anda  Bisa Membuat suara Seperti bunyi Kentut/meniup tangan anda
2.Lakukan itu Selama beberapa kali
3.Setelah Terbiasa,anda lakukan secara bersamaan dengan menghirup nafas
4.Setelah anda bisa,cobakan lah pada Saluang

Tempat menjual alat musik tiup MINANGKABAU DiBukittinggi










sumber:http://hilpendrisilat.blogspot.co.id/2015/06/saluang-minangkabau.html

Pengertian alat tradisional Saluang .

Saluang adalah alat musik tradisional khas Minangkabau, Sumatera Barat. Yang mana alat musik tiup ini terbuat dari bambu tipis atau talang (Schizostachyum brachycladum Kurz). Orang Minangkabau percaya bahwa bahan yang paling bagus untuk dibuat saluang berasal dari talang untuk jemuran kain atau talang yang ditemukan hanyut di sungai[1]. Alat ini termasuk dari golongan alat musik suling, tetapi lebih sederhana pembuatannya, cukup dengan melubangi talang dengan empat lubang. Panjang saluang kira-kira 40-60 cm, dengan diameter 3-4 cm. Adapun kegunaan lain dari talang adalah wadah untuk membuat lamang (lemang), salah satu makanan tradisional Minangkabau. dalam mebuat saluang ini kita harus menentukan bagian atas dan bawahnya terlebih dahulu untuk menentukan pembuatan lubang, kalau saluang terbuat dari bambu, bagian atas saluang merupakan bagian bawah ruas bambu. pada bagian atas saluang diserut untu dibuat meruncing sekitar 45 derajat sesuai ketebalan bambu. untuk membuat 4 lubang pada alat musik tradisional saluang ini mulai dari ukuran 2/3 dari panjang bambu, yang diukur dari bagian atas, dan untuk lubang kedua dan seterusnya berjarak setengah lingkaran bambu. untuk besar lubang agar menghasilkan suara yang bagus, haruslah bulat dengan garis tengah 0,5 cm.
Pemain saluang legendaris bernama Idris Sutan Sati dengan penyanyinya Syamsimar.
Keutamaan para pemain saluang ini adalah dapat memainkan saluang dengan meniup dan menarik napas bersamaan, sehingga peniup saluang dapat memainkan alat musik itu dari awal dari akhir lagu tanpa putus. Cara pernapasan ini dikembangkan dengan latihan yang terus menerus. Teknik ini dinamakan juga sebagai teknik manyisiahan angok (menyisihkan napas).
Tiap nagari di Minangkabau mengembangkan cara meniup saluang, sehingga masing-masing nagari memiliki ciri khas tersendiri. Contoh dari ciri khas itu adalah Singgalang, Pariaman, Solok Salayo, Koto Tuo, Suayan dan Pauah. Ciri khas Singgalang dianggap cukup sulit dimainkan oleh pemula, dan biasanya nada Singgalang ini dimainkan pada awal lagu. Sedangkan, ciri khas yang paling sedih bunyinya adalah Ratok Solok dari daerah Solok.
Dahulu, kabarnya pemain saluang ini memiliki mantera tersendiri yang berguna untuk menghipnotis penontonnya. Mantera itu dinamakan Pitunang Nabi Daud. Isi dari mantera itu kira-kira : Aku malapehan pituang Nabi Daud, buruang tabang tatagun-tagun, aia mailia tahanti-hanti, takajuik bidodari di dalam sarugo mandanga bunyi saluang ambo, kununlah anak sidang manusia...... dan seterusnya [2].


 



sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Saluang

Minggu, 27 November 2016

sejarah alat musik tradisional sasando.

Sejarah Dan Asal-usul Sasando Rote Alat Musik Tradisional Rote NTT

Alat Musik Sasando Rote dari NTT
Nusa tenggara Timur, tepatnya di Kepulauan Rote ternyata memiliki kesenian tradisional yang khas dan dikenal yaitu Sasando Rote, alat musik tersebut telah dikenal di dunia Internasional, namun karena Minimnya pengetahuan tentang alat musik tersebut, seperti dikutip dari beberapa referensi di Media, mari kita bahas bersama jenis dan asal muasal alat musik tersebut
Sasando merupakan alat musik tradisional dari kebudayaan Rote, Nusa Tenggara Timur. Orang-orang Rote menyebutnya (Sasandu), artinya alat yang bergetar atau berbunyi. Atau dalam bahasa Kupang sering menyebutnya sasando, alat musik berdawai yang dimainkan dengan cara memetik dengan jari-jemari tangan. Sasando adalah sebuah alat instrumen musik yang dipetik. Konon sasando telah digunakan di kalangan masyarakat Rote sejak abad ke-7.
Pada proses pembuatannya bahan utama sasando adalah bambu yang membentuk tabung panjang. Lalu pada bagian tengah, melingkar dari atas ke bawah diberi penyangga atau ganjalan-ganjalan—dalam bahasa rote disebut senda—tempat senar-senar atau dawai direntangkan mengelilingi tabung bambu, bertumpu dari atas kebawah. Senda ini memberikan nada yang berbeda-beda kepada setiap petikan senar. Pada mulanya alat penyetem dawai terbuat dari kayu, yang harus diputar kemudian diketok untuk mengatur nada yang pas. Lalu tabung sasando ini ditaruh dalam sebuah wadah yang terbuat dari anyaman daun lontar yang disebut haik. Haik inilah yang berfungsi sebagai resonansi sasando.



 sumber: https://www.kabarrantau.com/sejarah-dan-asal-usul-sasando-rote-alat-musik-tradisional-rote-ntt/

Fungsi alat musik tradisional sasando.

Fungsi Sasando Alat Musik Tradisional

Fungsi Sasando Alat Musik Tradisional. Asal mula alat Musik ini, menurut para tokoh Adat di Pulau Rote, sudah dikenali sejak Rote menjadi bagian dari daerah kerajaan. Konon, awalnya Adalah ketika seorang pemuda bernama Sangguana terdampar di Pulau Ndana saat pergi melaut. Ia dibawa oleh penduduk menghadap raja di istana. Selama tinggal di istana inilah bakat seni yang dimiliki Sangguana segera diketahui banyak orang hingga sang putri pun terpikat. Ia meminta Sangguana menciptakan alat Musik yang belum pernah ada. Suatu malam, Sangguana bermimpi sedang memainkan suatu alat Musik yang indah bentuk maupun suaranya. Diilhami mimpi tersebut, Sangguana menciptakan alat Musik yang ia beri nama sandu (artinya bergetar). Ketika sedang memainkannya, Sang Putri bertanya lagu apa yang dimainkan, dan Sangguana menjawab, "Sari Sandu". Alat Musik itu pun ia berikan kepada Sang Putri yang kemudian menamakannya Depo Hitu yang artinya sekali dipetik tujuh dawai bergetar. Keindahan bunyi sasando mampu menangkap dan mengekspresikan beraneka macam nuansa dan emosi.

Fungsi Sasando Alat Musik Tradisional

Fungsi Alat Musik Tradisional Sasando

Menurut masyarakat Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, Alat Musik tersebut dikenal sebagai Alat Musik keseharian. Karena itu, dalam masyarakat Nusa Tenggara Timur, sasando Adalah alat Musik pengiring tari, penghibur keluarga saat berduka, menambah keceriaan saat bersukacita, serta sebagai hiburan pribadi. Kini Musik sasando dikenal sebagai alat Musik yang menghasilkan melodi terindah dari Pulau Rote.

Bentuk Alat Musik Tradisional Sasando

Bentuk alat musik sasando mirip dengan alat musik petik lainnya seperti gitar, biola, dan kecapi. Bagian utama alat musik sasando berbentuk tabung panjang yang terbuat dari bambu. Melingkar dari atas ke bawah tabung Adalah ganjalan-ganjalan di mana senar-senar (dawai-dawai) direntangkan dan bertumpu. Ganjalan-ganjalan ini memberikan nada yang berbeda-beda kepada setiap petikan senar. Tabung sasando ini diletakkan dalam sebuah wadah setengah melingkar terbuat dari daun pohon gebang (semacam lontar) yang menjadi tempat resonansi sasando. Hingga kini, semua bahan yang dipakai untuk membuat sasando terbuat dari bahan alami, kecuali senar dari kawat halus.

Jenis Alat Musik Tradisional Sasando

Jenis-jenis sasando dibedakan dari jumlah senarnya, yaitu sasando engkel (dengan 28 dawai), sasando dobel (dengan 56 dawai, atau 84 dawai), sasando gong atau sasando haik, dan sasando biola. Karena itu, bunyi sasando sangat bervariasi. Hampir semua jenis Musik bisa dimainkan dengan sasando, seperti Musik tradisional, pop, slow rock, bahkan dangdut. 

Cara Memainkan Alat Musik Sasando 

Teknik atau cara Memainkan alat musik Sasando tidaklah mudah, sebab perlu dibutuhkan harmonisasi perasaan dan teknik sehingga tercipta alunan nada yang merdu. Selain itu juga, diperlukan keterampilan jari jemari untuk memetik dawainya seperti pada alat musik harpa. Akan tetapi, Sasando dimainkan dengan menggunakan dua tangan yang berlawanan. Inilah yang membuatnya unik dan berbeda dibandingkan alat musik tradisional lainnya. senar sasando harus dipetik dengan dua tangan, seperti harpa. Tangan kiri berfungsi memainkan melodi dan bas, sementara tangan kanan memainkan accord. Ini menjadi keunikan sasando karena seseorang dapat menjadi melodi, bass, dan accord sekaligus.




 sumber:http://fungsialat.blogspot.co.id/2016/09/fungsi-sasando-alat-musik-tradisional.html

pengertian alat musik sasando.

Sasando adalah sebuah alat musik dawai yang dimainkan dengan dipetik. Instumen musik ini berasal dari pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Secara harfiah nama Sasando menurut asal katanya dalam bahasa Rote, sasandu, yang artinya alat yang bergetar atau berbunyi. Suara sasando ada miripnya dengan alat musik dawai lainnya seperti gitar, biola, kecapi, dan harpa.
Bagian utama sasando berbentuk tabung panjang yang biasa terbuat dari bambu. Lalu pada bagian tengah, melingkar dari atas ke bawah diberi ganjalan-ganjalan di mana senar-senar (dawai-dawai) yang direntangkan di tabung, dari atas kebawah bertumpu. Ganjalan-ganjalan ini memberikan nada yang berbeda-beda kepada setiap petikan senar. Lalu tabung sasando ini ditaruh dalam sebuah wadah yang terbuat dari semacam anyaman daun lontar yang dibuat seperti kipas. Wadah ini merupakan tempat resonansi sasando..[1]
















sumber:https://id.wikipedia.org/wiki/Sasando

sejarah alat musik tradisional kolintang.

SEJARAH MUSIK KOLINTANG

Kolintang merupakan nama alat musik gong perunggu abad 17 di Sulawesi Utara, Sumatra dan Filipina Selatan yang tersebar melalui perdagangan antar pulau melalui jalur perdagangan sutra. Pusat perdagangan Internasional adalah Ternate dan Tidore sebagai penghasil rempah-rempah pala dan cengkih. Jalur perdagangan selatan dari pantai Timur India pelabuhan Cambaya, Sumatra Utara, Malaka, pantai Utara pulau Jawa lalu ke Ternate Tidore. Jalur perdagangan Utara dari India ke Malaka, Brunei, Filipina selatan, Sulawesi Utara, lalu ke Ternate dan Tidore.


Kolintang gong kemungkinan telah tiba di Minahasa melalui Ternate dari kerajaan Majapahit (1350-1389) yang armada pelayarannya sudah sampai dikepulauan Sangihe dan Talaud. Yang sudah tercatat dalam buku negara Kartagama ditulis : ”Uda Makat raya dinikanang sanusa pupul” (1*) mungkin juga dari Cina karena pulau Siauw telah tercatat dalam peta pelayaran Cina di buku ” Shun Feng Hsin Sung” ditulis oleh SHAO (2*) awal abad ke 15.


Tahun 1972 penulis membawa MOMONGAN ( Gong perunggu ) asal Tomohon di Minahasa yang retak, untuk diperbaiki di Yogyakarta, pengrajin Gong di Yogyakarta, mengatakan bahwa campuran timah dan tembaga gong tersebut menunjukkan ciri khas buatan kerajaan Belambangan dari Jawa Timur (Ditaklukkan Mataram pada tahun 1639).


Beberapa penulis bangsa barat yang menulis mengenai Minahasaawal abad ke 19 memberi data mengenai alat musik KOLINTANG Minahasa terbuat dari bahan logam dan bukan dari kayu. Penulis J. Hickson mencatat sebagai berikut (3*) ...the party next return to the house, the gong kolintang are sounded ( terjemahan bebas : …peserta pesta upacara kemudian kembali kerumah, dan gong kolintang lalu dibunyikan.) Selanjutnya penulis J. Hickson menceritakan mengenai Mapalus dan lebih menjelaskan bahwa kolintang itu gong (4*)


...Mapalus bieting Gongs / Kolintang (Terjemahan bebas : ...Pekerja Mapalus memukul Gong / Kolintang ). Nada – nada Kolintang Gong ditulis oleh N.Graafland dalam bentuk solmisasi, do – mi – sol – mi ... la – do – fa – si , ada gong besar dengan nada fa rendah (5*)


(1*) Bandar jalur sutra – dept. P&K – RI. Jakarta 1998. (Alex Ulaen, halaman 108)

(2*) Bandar Jalur Sutra – Dept. P&K – RI. Jakarta 1998. (Alex Ulaen, halaman 109)

(3*) Naturalist in North Celebes – London 1889 (J. Hickson, halaman 292)

(4*) Naturalist in North Celebes – London 1889 (J. Hickson, halaman 234)

(5*) De Minahasa, eerste deel – Batavia 1898 (N.Graafland, halaman 357)


Alat musik kolintang gong Minahasa jaman tempo dulu dapat kita lihat pada gambar sketsa buku Ethnographisce Miezelen Minahasa Celebes, A. Meyer and O. Ritcher di Museum Dresden 1902.


Gambar penari Kabasaran memakai tombak, di iringi musik kolintang gong yang nampak disebelah kanan bawah, seorang duduk menghadapi kolintang yang terdiri dua deret gong masing – masing satu deretan terdapat lima gong.


Kolintang Gong ini masih dapat di temukan di Airmadidi bawah wilayah Tonsea milik Ny. Kilapong dan Ny. Doodoh yang hingga kini musik MAOLING digunakan mengiringi tari MAPURENGKEY pada upacara perkawinan (6*). Apabila kita kumpulkan nama instrumen alat musik Gong di wilayah Nusantara dan Filipina, yang mirip dengan kata KOLINTANG akan terlihat sebgai berikut :

KOLINTANG : Nama alat musik Gong di Minahasa.


GOLINTANG (GORINTANG) : Nama alat musik di Bolaang – Mongondouw.

KELINTANG : Nama alat musik Gong di Sumatra yang di jadikan perbandingan nama KOLINTANG oleh penulis N.Graafland sebagai berikut (8*): ...De KOLINTANG (Minahasa) op Sumatra heet zij KULINTANG (Terjemahan bebas : ...KOLINTANG (Minahasa) di Sumatra bernama KULINTANG.

KULINTANG : Nama alat musik Gong di Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatra (9*)



Dari nama-nama leluhur Minahasa jaman lampu seperti, Lintang, Lumintang, Lantang, Lintong, yang berhubungan dengan nama alat musik gong dan keterangan bunyi alat musik logam tersebut, TANG, TONG. Menunjukkan bahwa alat musik gong KOLINTANG itu sudah lama dikenal orang Minahasa, yang jaman tempo dulu punya nilai yang tinggi dimasyarakat dan hanya pemimpin masyarakat yang memiliknya yakni dari golongan TONAAS dan WAILAN. Dapat diambil kesimpulan bahwa leluhur (Opo’) yang mengambil nama dari alat musik Gong ini memiliki status sosial yang tinggi dimasyarakat.







sumber: https://maengket.blogspot.com/2008/08/sejarah-musik-kolintang.html